Cara Budidaya Ikan Lele Sistem Bioflok

Pemerintah Indonesia menghadapi tantangan yang cukup besar, bukan hanya untuk meningkatkan produksi ikan budidaya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri, namun juga untuk pasar ekspor yang mempunyai berbagai persyaratan.

Pemenuhan persyaratan tersebut merupakan keharusan dalam memenangkan persaingan di pasar regional dan internasional, yang menentukan keberterimaan dan daya saing produk perikanan budidaya.

Upaya untuk menghasilkan produk perikanan budidaya yang memenuhi persayaratan mutu dan keamanan pangan harus dilaksanakan sejalan dengan upaya peningkatan produksi perikanan budidaya.

Berdasarkan FAO The State of World Fisheries and Aquaculture 2016, produksi perikanan budidaya tahun 2014 Indonesia di Asia Tenggara adalah yang terbesar, sedangkan dibandingkan dengan seluruh dunia merupakan produsen terbesar ketiga, setelah China dan India.

Hal ini menunjukkan kepentingan Indonesia yang sangat besar untuk meningkatkan daya saing dan keberterimaan produknya di pasar regional dan internasional.

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang berasal dari Afrika yaitu lele dumbo (Clarias gariepinus) dan lele lokal (Clarias batrachus) dan sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan.

  • Dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi
  • Teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat
  • Pemasarannya relatif mudah
  • Modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah serta
  • Waktu usaha yang dibutuhkan tidak terlalu lama.

Seiring dengan semakin tingginya permintaan ikan lele, membuat peluang bisnis budidayanya semakin terbuka. Budidaya ikan lele, baik pembenihan maupun pembesaran dapat dijalankan dengan modal besar, tetapi dengan jumlah modal terbataspun dapat dilakukan.

Kini, budidaya lele umumnya dikelola secara intensif. Budidaya lele pun sebagai rantai awal bisnis lele mempunyai peluang yang cukup besar untuk mendukung pemerintah dalam program membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Secara ekonomis, usaha budidaya lele sangat menguntungkan karena ikan lele memiliki nilai ekonomi yang tinggi, tidak memerlukan perawatan yang rumit, penghasil protein yang tinggi sehingga sangat baik untuk pemenuhan gizi masyarakat, harga jualnya terjangkau oleh masyarakat, serta mudah didapatkan di pasaran.

Dalam usaha budidaya, kebutuhan pakan merupakan komponen biaya produksi terbesar yaitu berkisar antara 80-85% dari total biaya produksi. Saat ini komponen terbesar biaya produksi dikarenakan mahalnya harga pakan sehingga masih menjadi kendala besar.

Hal ini terkait dengan tergantungnya bahan baku pakan impor yang harganya terus meningkat. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari alternatif pemecahan terhadap masalah tersebut baik oleh pemerintah melalui berbagai kebijakan maupun berbagai inovasi teknologi oleh UPT, UPTD dan pelaku usaha budidaya namun belum memberikan hasil yang signifikan sehingga perlu adanya inovasi teknologi yang lebih fokus terhadap teknologi efisiensi biaya produksi melalui penggunaan pakan.

Oleh karena itu, melalui teknologi bioflok yang mampu mengolah limbah untuk meminimalkan limbah sekaligus mendaur ulang limbah menjadi pakan merupakan kunci jawabannya dalam menciptakan budidaya ikan yang ramah lingkungan, berkelanjutan, efisien dalam penggunaan air maupun pakan.

Teknologi ini juga mampu mengurangi kebutuhan air pasok yang saat ini merupakan permasalahan bagi budidaya ikan di perkotaan. Dengan kelebihan tersebut, selain dapat meminimalisir limbah buangan budidaya, bioflok dapat menjamin pemenuhan persyaratan Cara Budidaya ikan Yang Baik (CBIB) yang menjamin mutu dan keamanan hasil perikanan.

Biologi ikan lele

Klasifikasi ikan lele dumbo menurut Hasanuddin Saanin Kdalam Djatmika et al(1986) secara lengkap sebagai berikut;

  • Kingdom: Animalia
  • Subkingdom: Metazoa
  • Filum: Chordata
  • Sub filum: Vertebrata
  • Kelas: Pisces
  • Sub kelas: Teleostei
  • Ordo: Ostariophysi
  • Sub ordo: Siluroidea
  • Famili: Clariidae
  • Genus: Clarias
  • Spesies: Clarias spp

Penyebutan nama ikan lele di berbagai negara berbeda-beda. Ikan lele ada yang dikenal dengan sebutan keli (Malaysia), plamond (Thailand), catetrang (Jepang), mali (Afrika), gura magura (Srilangka), dan catfish (Inggris).

Di berbagai daerah di Indonesia, lele disebut ikan keli atau keeling (Makasar/Sulawesi), lele (Pulau Jawa), pintet (Kalimantan), kalang (Sumatera). Disebut catfish karena ikan ini mempunyai kumis seperti kucing.

Istilah ini juga berlaku bagi jenis ikan lain yang juga berkumis, seperti : patin dan baung. Beberapa spesies ikan lele yang ada di Indonesia diantaranya : Clarias melanoderma, Clarias nieuhofii, Clarias teijsmanii, Clarias macrochepalus, Clarias batrachus dan Clarias leiacanthus (Surya Gunawan, 2009).

Ciri morfologis

Ikan lele secara umum memiliki tubuh yang licin, berlendir, tidak bersisik dan bersungut atau berkumis. Lele memiliki kepala yang panjang, hampir mencapai seperempat dari panjang tubuhnya.

Kepalanya pipih ke bawah (depressed) dengan bagian atas dan bawah
kepalanya tertutup oleh tulang pelat. Tulang pelat ini membentuk ruangan rongga di atas insang.

Di ruangan inilah terdapat alat pernapasan tambahan berupa labirin, yang bentuknya sertpei rimbunan dedaunan dan berwarna kemerahan.

Fungsi labirin ini untuk mengambil oksigen langsung dari udara. Dengan alat pernapasan tambahan ini, ikan lele mampu bertahan hidup dalam kondisi oksigen (O ) yang minimum (Supardi, 2003).

Mulut terletak pada ujung moncong (terminal) dengan dilengkapi 4 buah sungut (kumis). Mulut lele dilengkapi gigi atau hanya berupa permukaan kasar di mulut bagian depan.

Di dekat sungut, terdapat alat olfaktori yang berfungsi untuk perabaan dan penciuman serta penglihatan yang kurang berfungsi dengan baik. Lele memiliki tiga buah sirip tunggal, yakni sirip punggung (dorsal), sirip ekor (caudal), dan sirip dubur (anal).

Sirip punggung dan sirip dubur tersebut berfungsi untuk menjaga keseimbangan. Sirip dadanya dilengkapi dengan sirip yang keras dan runcing yang disebut patil. Secara umum, morfologi ikan lele dapat dilihat pada Gambar di bawah.

ciri morfologis ikan lele

Dalam menentukan jenis kelamin antara jantan dan betina tidak terlalu sulit. Ini dapat dilihat dari perbedaan kelamin dan bentuk fisiknya.

Umumnya, jenis kelaminnya dapat dibedakan saat hendak dipijahkan atau matang kelamin. Perbedaan antara ikan lele jantan dan betina dapat dilihat pada Gambar di bawah.

perbedaan alat kelamin ikan lele jantan dan betina
Perbedaan antara ikan lele jantan dan betina

Habitat

Habitat atau lingkungan hidup lele banyak ditemukan di perairan tawar, di dataran rendah hingga sedikit payau. Di alam, ikan lele hidup di sungai-sungai yang arusnya mengalir secara perlahan atau lambat, kolam, danau, waduk, rawa, serta genangan air tawar lainnya.

Ikan ini lebih menyukai perairan yang tenang, tepian dangkal dan terlindung, ikan lele memiliki kebiasaan membuat atau menempati lubang-lubang di tepi sungai atau kolam (Rachmatun, 2007).

Tingkah laku

Ikan lele bersifat nokturnal yaitu aktif bergerak mencari makan pada malam hari. Pada siang hari biasanya berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap.

Ikan lele dilengkapi pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya dan bernafas dengan bantuan labirin yang berbentuk seperti bunga karang di bawah badannya, fungsinya sebagai penyerap oksigen yang berasal dari udara sekitarnya.

Maka dalam keadaan tertentu ikan lele dapat beberapa jam berdiam di permukaan tanah yang lembab dan sedikit kadar oksigennya (Rachmatun, 2007).

Makanan dan kebiasaan makan

Ikan lele adalah pemakan hewan dan pemakan bangkai (carnivorousscavanger). Makanannya berupa binatang-binatang renik, seperti kutu-kutu air (daphnia, cladocera, copepoda), cacing, larva (jentik-jentik serangga), siput kecil dan sebagainya.

Ikan ini biasanya mencari makanan di dasar perairan, tetapi bila ada makanan yang terapung maka lele juga dengan cepat memakannya. Dalam mencari makanan, lele tidak mengalami kesulitan karena mempunyai alat peraba (sungut) yang sangat peka terhadap keberadaan makanan, baik di dasar, pertengahan maupun permukaan perairan.

Pertumbuhan lele dapat dipacu dengan pemberian pakan berupa pelet yang mengandung protein minimal 25% (sesuai SNI 01-4087-2006). Jika ikan lele diberi pakan yang banyak mengandung protein nabati, maka pertumbuhannya lambat (Ghufran, 2010).

Walaupun ikan lele bersifat nokturnal, akan tetapi pada kolam pemeliharaan terutama budidaya secara intensif lele dapat dibiasakan diberi pakan pelet pada pagi atau siang hari walaupun nafsu makannya tetap lebih tinggi jika diberi pada waktu malam hari.

Ikan lele relatif tahan terhadap kondisi lingkungan yang kandungan oksigennya sangat terbatas. Pada kondisi kolam dengan padat penebaran yang tinggi dan kandungan oksigennya minimum, ikan lele pun masih dapat bertahan hidup (Khairuman SP, 2008).

Siklus pertumbuhan dan perkembangan ikan lele

Siklus pertumbuhan dan perkembangan ikan lele
Sumber gambar FAO

Sistem pembenihan dan pembesaran lele digambarkan seperti di atas. Untuk pembesaran menurut Suhenda (1988), laju pertumbuhan ikan lele sebesar 1,25% per hari apabila diberi pakan yang mengandung protein 45% dan energy 3.000 Kcal/kilogram pakan (Fuad, 2005).

Di kolam tergenang, dengan diberi pakan buatan ikan lele dumbo dapat tumbuh mencapai 300 gram dari berat awal ± 30 gram dalam waktu 2 bulan (SEAFDEC/AQD, 1994). Sedangkan ikan lele dumbo yang dipelihara dalam KJA dengan padat tebar 503 ekor/m dapat mencapai berat 16 kilogram (Khairuman SP, 2008).

Jenis-jenis ikan lele

Menurut Ghufran (2010), jenis-jenis ikan lele yang sudah banyak dibudidayakan antara lain :

Lele lokal

Lele lokal (Clarias batrachus) merupakan lele asli perairan umum Indonesia. Lele lokal sudah dibudidayakan sejak tahun 1975 di daerah Blitar, Jawa Timur.

Daging lele lokal sangat gurih dan renyah karena tidak mengandung banyak lemak. Namun pemeliharaannya memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan lele dumbo (Clarias gariepinus). Untuk mencapai ukuran 500 gram per ekor, dibutuhkan waktu pemeliharaan sekitar 1 tahun.

Oleh karena itu, budidaya lele lokal tidak sebanyak lele dumbo. Walaupun demikian, lele lokal tetap dibudidayakan karena konsumen fanatik lele lokal cenderung tidak menyukai daging lele dumbo.

Lele dumbo

Lele dumbo (Clarias gariepinus) adalah ikan introduksi yang didatangkan ke Indonesia pada tahun 1985. Lele dumbo merupakan lele hybrid dari hasil persilangan lele lokal Afrika spesies C. Mossambicus dengan lele lokal Taiwan spesies C. Fuscus. Perkawinan silang tersebut menggunakan C. Mossambicus jantan dan C. Fuscus betina.

Lele dumbo merupakan lele unggul, selain pertumbuhannya cepat, ukurannya pun sangat besar. Untuk mencapai ukuran 500 gram per ekor, lele dumbo hanya butuh waktu pemeliharaan sekitar 3-4 bulan. Oleh karena itu, lele dumbo sangat popular sebagai ikan budidaya di Indonesia. Sebagian konsumen tidak menyukai lele dumbo karena lemaknya cukup tinggi.

Lele keli

Lele keli (Clarias meladerma) merupakan salah satu ikan lele lokal. Lele keli mulai dibudidayakan pada tahun 1987 oleh Sub Balitkanwar Palembang dan berhasil dipijahkan pada tahun 1989.

Lele ini banyak ditemukan di daerah Keli, Sumatera Selatan. Karena itulah lele ini disebut “Lele Keli”. Berdasarkan uji coba, lele keli lebih unggul dari lele lokal. Untuk tumbuh mencapai 500 gram per ekor, diperlukan waktu 5-6 bulan.

Lele keli juga mudah beradaptasi pada berbagai perairan tawar dan tahan terhadap serangan penyakit, khususnya bakteri Aeromonas yang sering menyerang ikan lele. Pertumbuhannya pun lebih cepat dari lele lokal, meskipun masih di bawah lele dumbo.

Umumnya, lele keli mempunyai warna badan lebih gelap (hitam kekuningan) dari lele lokal yang berwarna lebih muda (terang), sirip-siripnya lebih lebar dari lele lokal, ukuran kepalanya lebih besar dari lele lokal dan tidak mempunyai patil (patilnya tidak tajam).

Lele sangkuriang

Lele sangkuriang (Clarias gariepinus Var) merupakan salah satu varietas atau strain unggul yang dihasilkan oleh peneliti di Indonesia. Lele ini merupakan hasil perbaikan genetik lele yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi dengan melakukan silang balik (backcross) terhadap induk lele dumbo yang ada di Indonesia antara induk betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6).

Induk betina F2 merupakan koleksi yang ada di BBPBAT Sukabumi yang berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia pada tahun 1985, sedangkan induk jantan F6 merupakan sediaan induk yang ada di BBPBAT Sukabumi. Pada tahun 1994, lele sangkuriang resmi dilepas sebagai varietas lele unggul berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KP.26/MEN/2004 tertanggal 21 Juli 2004.

Lele sangkuriang memiliki keunggulan dibandingkan lele dumbo. Keunggulan lele sangkuriang dibandingkan dengan lele dumbo antara lain fekunditas telur yang lebih banyak, yaitu mencapai 60.000 butir dengan derajat penetasan telur >90%, sedangkan lele dumbo hanya 30.000 butir dengan derajat penetasan 90%, panjang rata-rata benih lele sangkuriang usia 26 hari dapat mencapai 3-5 cm, sedangkan lele dumbo hanya 2-3 cm, nilai konversi pakan atau FCR lele sangkuriang berada pada kisaran 0,8 – 1, sedangkan nilai FCR lele dumbo lebih dari 1 (Khairuman, 2008).

Perbedaan karakter lele sangkuriang dengan lele dumbo dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Perbedaan karakter pertumbuhan lele sangkuriang dengan lele dumbo

Lele phyton

Lele phyton (Clarias gariepinus var) dihasilkan oleh Kelompok Sinar Kehidupan Abadi (SKA), kelompok pembudidaya lele Bayumundu, Pandeglang, Banten. Lele phyton merupakan lele hasil silang antara lele dumbo asal Thailand (lele D89F2) dengan lele dumbo asal Afrika (F6).

Lele phyton juga merupakan salah satu varietas lele unggul yang dihasilkan oleh penangkar lokal. Karena bentuk kepala ikan ini mirip dengan ular phyton, maka dinamakan ikan lele phyton. Ciri-ciri fisiknya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

ciri fisik lele phyton

Keunggulan dari lele phyton adalah pertumbuhannya lebih cepat. Ukuran benih 7-8 cm membutuhkan waktu sekitar 50-55 hari pemeliharaan untuk mencapai ukuran konsumsi, sedangkan pemeliharaan ukuran benih 9-10 cm hanya membutuhkan waktu 40-45 hari untuk mencapai ukuran konsumsi. Disamping itu, lele phyton dapat dibudidayakan di lingkungan yang bersuhu dingin.

Budidaya ikan lele dengan teknologi bioflok

BIOFLOK berasal dari kata “BIOS” artinya kehidupan dan B“FLOC atau FLOCK” artinya gumpalan. Jadi pengertian BIOFLOK adalah kumpulan dari berbagai organisme (bakteri, jamur, algae, protozoa, cacing, dll.) yang tergabung dalam gumpalan (flok).

Teknologi bioflok pada awalnya merupakan adopsi dari teknologi pengolahan limbah lumpur aktif secara biologi dengan melibatkan aktivitas mikroorganisme (seperti bakteri).

Budidaya ikan dengan menerapkan teknologi bioflok berarti memperbanyak bakteri/mikroba yang menguntungkan dalam media budidaya ikan, sehingga dapat memperbaiki dan menjaga kestabilan mutu air, menekan senyawa beracun seperti amoniak, menekan perkembangan bakteri yang merugikan (bersifat pathogen) sehingga ikan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (Suprapto, 2013).

Skema aliran nitrogen pada sistem budidaya dengan teknologi bioflok
Skema aliran nitrogen pada sistem budidaya dengan teknologi bioflok

Dalam penerapan teknologi bioflok memanfaatkan penumpukan bahan organik yang berasal dari sisa pakan, kotoran ikan maupun jasad yang mati seperti plankton dan lain-lain sebagai sediaan hara untuk merangsang pertumbuhan bakteri yang akan menghasilkan flok.

Oleh karena itu dalam teknologi ini pergantian air dapat diminimalkan. Bahan organik diusahakan teraduk secara terus menerus, sehingga terurai dalam kondisi cukup oksigen (aerob).

Perkembangan mikroba dalam media budidaya diharapkan didominasi oleh bakteri/mikroba yang menguntungkan. Untuk itu perlu dilakukan penambahan mikroba/bakteri probiotik secara berkala ke dalam media budidaya.

Penambahan karbon organik seperti molase (tetes tebu) atau gula pasir atau tepung terigu atau leri (air cucian beras) akan mempercepat perkembangan mikroba/bakteri heterotrof yang menguntungkan.

Selanjutnya bakteribakteri tersebut akan membentuk konsorsium dan terjadi pembentukan flok dengan adanya bahan organik yang cukup tinggi di dalam media budidaya.

Bahan organik yang merupakan limbah diaduk dan diaerasi. Bahan organik yang tersuspensi akan diuraikan oleh bakteri heterotrof secara aerobik menjadi senyawa anorganik. Bila bahan organik mengendap (tidak teraduk) maka akan terjadi kondisi yang anaerobik.

Hal ini akan merangsang bakteri anaerobik mengurai bahan organik menjadi bahan organik yang lebih sederhana (asam organik, alkohol) serta senyawa yang bersifat racun (amoniak, nitrit, H2S, metana).

Keuntungan penerapan teknologi bioflok ini antara lain;

  • Sedikit pergantian air (efisien dalam penggunaan air)
  • Tidak tergantung sinar matahari
  • Padat tebar lebih tinggi (bisa mencapai 3.000 ekor/m3)
  • Produktivitas tinggi
  • Efisien pakan (FCR bisa mencapai 0,7)
  • Efisien dalam pemanfaatan lahan
  • Membuang limbah lebih sedikit
  • Ramah lingkungan

Persyaratan umum dalam penerapan teknologi bioflok

  • Konstruksi kolam harus kuat (beton, terpal, fiber)
  • Kedisiplinan dan ketelitian yang tinggi
  • Perlu keuletan
  • Perlu peralatan untuk aerasi dan pengadukan
  • Pemahaman terhadap teknologi budidaya

Pembuatan kolam

Dalam penerapan teknologi bioflok pada budidaya lele secara intensif, konstruksi kolam dapat terbuat dari beton, terpal atau fiber. Konstruksi kolam tidak membentuk sudut. Contoh konstruksi kolam bundar berbahan plastik dengan rangka besi anyaman (besi wiremesh) sebagai berikut;

  • Besi anyaman (besi wiremesh diameter 6 mm) untuk rangka dinding kolam
  • Fiber tipis / karpet talang / tripleks 2 mm untuk pelapis dinding
  • Terpal/ plastik untuk dinding dan dasar kolam
  • Pipa PVC 2 inchi dan knee 2 buah
  • Sealer (lem)
  • Gunting
  • Gergaji besi

Caranya

  • Besi anyaman (besi wiremesh) dipotong sesuai dengan ukuran yang diinginkan, kemudian antar buku dikaitkan dengan cincin besi atau diikat kawat sebagai pengunci sehingga berbentuk lingkaran (lihat gambar).
  • Kolam dapat berbentuk persegi berukuran 1×2 m2 , 2×4 m2 atau kolam berbentuk bundar berdiameter 2 meter. Untuk kolam berbentuk persegi, sudut dilengkungkan untuk menghindari sudut mati.
  • Terpal/plastik dipotong sesuai dengan ukuran dan bentuk kolam yang diinginkan, kemudian dijahit dan di lem agar tidak bocor.
  • Terpal yang sudah jadi dimasukkan kedalam rangka besi yang telah disiapkan.
Konstruksi kolam bundar dengan rangka anyaman besi
Konstruksi kolam bundar dengan rangka anyaman besi

Persiapan kolam

Jika sudah selesai membuat kolam, sekarang saatnya untuk menyiapkan kolam untuk benih ikan lele.

Pengisian air

Sebelum kolam diisi air, kolam terlebih dahulu dibersihkan/ disterilisasi. Bila perlu dilakukan pengeringan dan desinfeksi dengan menggunakan kaporit 10%.

Pengisian air kedalam kolam sampai penuh dengan ketinggian air 80-100 cm dengan menggunakan air sumur atau air sungai yang sudah ditreatment dengan menggunakan kaporit 30 gram per m3 selama 3 hari (untuk kolam diluar ruangan) dan untuk kolam didalam ruangan dinetralkan dengan Sodium Thiosulfat dengan 3 dosis 15 gram/m setelah minimal 24 jam pemberian kaporit.

Pemasangan peralatan

Pemasangan peralatan meliputi pompa dan perlengkapannya (selang aerator, filter dan pipa pengeluaran pompa). Setelah pemasangan, perlu dilakukan uji coba untuk mengetahui kekuatan aliran arus dan kemampuan pengadukannya.

Aliran dibuat melingkar sehingga endapan terjadi di bagian tengah kolam. Pompa harus dipasang ditengah dan aliran air dikeluarkan di bagian tepi kolam dengan arah keluar yang berlawanan.

Perlakuan (treatment)

Perlakuan (treatment) air dilakukan dengan cara sebagai berikut;

  • Kapur tohor 100 gr per m3 /dolomit 200 gr per m3 /kaptan 200 gr per m3 /mill 150 gr per m3
  • Garam krosok (non-iodium) : 3 kg per m3 air
  • Probiotik 5 cc per m3 . Jenis probiotik yang digunakan adalah bakteri heterotrof antara lain Bacillus subtilis, Bacillus licheniformis, Bacillus megaterium, Bacillus polymyxa)
  • Molase (tetes tebu) sebanyak 100 cc per m3 atau gula pasir 75 gr per m3
  • Kemudian air dibiarkan selama 7 hari atau air terlihat berubah warna atau terasa lebih licin
  • Kolam siap ditebar benih

Pengadukan dan aerasi

Pengadukan dilakukan dengan menggunakan blower 100 watt yang dapat dimanfaatkan untuk 6 unit kolam bundar yang dipasang mulai dari awal pemeliharaan.

Gunanya untuk mengaduk media supaya bahan-bahan organik teraduk dengan rata sehingga terurai secara aerobik, untuk meningkatkan oksigen terlarut (DO) dan membuang gas karbondioksida (CO2) untuk mengurangi penurunan pH dan alkalinitas air, serta menambahkan kandungan oksigen (O2) untuk bakteri dan ikan didalam kolam.

Pengadukan dan aerasi harus tetap terjaga selama pemeliharaan untuk menghindari efek dari perombakan jasad plankton yang mati akibat dari kandungan oksigen yang rendah dan amoniak yang tinggi. Pengadukan dan aerasi ini juga sangat diperlukan untuk menjaga flok agar tetap tersuspensi didalam air, sehingga kualitas air sesuai untuk kebutuhan ikan.

Penebaran benih

Benih lele yang ditebar berukuran 7-8 cm (SNI Nomor 01-6484.2-2000) dengan padat tebar 1.000 ekor/m2. Sebelum benih ditebar, sebaiknya benih lele disucihamakan/direndam dengan menggunakan vaksin sesuai aturan pakai pada label kemasan. Penebaran benih hendaknya dilakukan pada pagi atau sore hari.

Upaya penyamaan suhu air wadah benih secara bertahap agar benih
tidak stres saat ditebarkan maka benih diadaptasikan terlebih dahulu dengan cara menambahkan air kolam ke dalam kantong benih. Benih yang sudah adaptasi akan dengan sendirinya keluar dari kantong (wadah) angkut benih menuju lingkungan air kolam.

Manajemen pakan

Setelah benih ditebar kedalam kolam, selanjutnya benih dipuasakan selama 2 hari untuk proses adaptasi dengan lingkungan baru sambil menunggu isi lambung bener-bener kosong/bersih. Pada saat pemberian pakan pertama kali disarankan maksimal Selain pemberian probiotik, sebaiknya juga melakukan pengapuran 7 hari sekali pada bulan pertama, dan setiap 5 hari sekali pada bulan berikutnya dengan dosis 200 gr per m3 air.

Setelah itu tambahkan unsur C (tepung terigu/ tepung beras/ tapioka) sebanyak 240 gram per 10 kilogram pakan yang diberikan.

Selanjutnya berikan aerasi yang kuat di dasar kolam hingga permukaan air untuk mempercepat proses pengadukan hingga terbentuknya flok. Pakan yang diberikan difermentasi dengan menggunakan probiotik jenis Lactobacillus selama 2 hari atau maksimal 7 hari.

Komposisinya yaitu 2 cc probiotik per kilogram pakan yang diberikan, dan ditambahkan air bersih sebanyak 25% dari berat pakan. Selanjutnya kedua bahan ini dicampur merata kemudian diletakkan dalam wadah dan dibiarkan selama 2 hari.

Setiap harinya, kedua bahan ini harus diaduk. Jenis pakan yang diberikan selama pemeliharaan yaitu pelet standar SNI (pakan buatan pabrik. Pemberian pakan pertama kali setelah puasa sebanyak 2,5 % dari bobot biomassa untuk adaptasi lambung setelah puasa.

Selanjutnya pakan diberikan sebanyak 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari dengan porsi sebanyak 80% dari daya kenyang ikan dengan perhitungan seperti pada gambar berikut ini.

Program pakan untuk ikan lele
Program pakan untuk ikan lele

Pemberian pakan yang sesuai dengan dosis ditandai dengan tidak adanya lele yang menggantung/telentang di permukaan air dalam waktu 1 – 2 jam setelah pemberian pakan.

Ikan tidak diberi pelet sehari dalam seminggu untuk memanfaatkan flok yang tersedia dimulai pada minggu kedua setelah penebaran.

Pengelolaan air

Pengelolaan air sangat penting dalam usaha budidaya. Kegiatan pengelolaan air dapat dilakukan dengan cara menambahkan probiotik kedalam wadah budidaya.

Cara dan dosis pemberian probiotik kedalam wadah budidaya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Jadwal pemberian probiotik budidaya ikan lele
Jadwal pemberian probiotik

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh KKP dalam bentuk pdf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *